Manusia memiliki akal, suatu kenikmatan yang sangat istimewa yang diberikan oleh Allah SWT, Sang Pencipta. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan-Nya yang lain. Hanya manusia yang tercipta dari segumpal tanah yang hina dan darah yang suci dengan segala kehormatan diberikan akal pikiran. Bersyukurlah! Bersyukur memiliki akal dari sesuatu yang diistimewakan dan hanya untuk makhluk yang istimewa. Bersyukur menjadi manusia yang hidup di dunia yang nyata. Bersyukur karena hidup dengan akal sebagai seorang manusia.
Akal, menumbuhkan pemikiran dari pikiran yang dipikirkan, melahirkan perasaan yang memiliki rasa yang bermacam-macam, membentuk pola pikir yang yang terstruktur rapi dalam berjuta sel-sel buah pikiran. Akal, bagai ruang kosong dikue donat yang siap dimakan (digunakan) dari berbagai sisi, siap ditaburi berbagai pola pikiran dari kehidupan, tak terasa nyata namun memiliki ruang sebagai pertanda keistimewaan, enak apabila digunakan (dimakan) dengan baik dan penuh perasaan, hampa apabila melihat besarnya ruang kosong yang tidak dimaksimalkan, mudah terpengaruh, mudah dibuat, mudah dirasa, memiliki ciri khas yang berbeda dimana tempatnya berada.
Akal, membawa seorang penulis rendahan ini ingin menulisnya, membuat manusia yang hina ini berpikir mendalam ingin memaksimalkan kemampuannya, mengatur pola pikir anak kampung ini untuk terus bertanya menggunakan kemampuan istimewanya.




![download[4]](http://farm5.static.flickr.com/4042/4278913170_e7973277d8_o.png)

